
Seorang jemaah haji asal Indonesia berhasil diselamatkan setelah mengalami henti jantung dan pernapasan di halaman Masjid an-Nabawi pada Senin malam. Insiden tersebut terjadi tak lama setelah pelaksanaan salat Maghrib, tepatnya pada 14 Ramadan 1447 H atau 3 Maret 2026.
Tim ambulans dari Saudi Red Crescent Authority bergerak cepat setelah menerima laporan darurat. Respons yang sigap dan penanganan medis sesuai prosedur menjadi faktor penting dalam menyelamatkan nyawa jemaah tersebut.
Panggilan Darurat Diterima Pukul 19.15 WIB
Dr. Ahmed bin Ali Al-Zahrani, Direktur Jenderal cabang Palang Merah Saudi di Madinah, menjelaskan bahwa Pusat Relokasi Medis menerima panggilan darurat pada pukul 19.15 WIB. Laporan tersebut menyebutkan adanya situasi kritis di halaman masjid segera setelah salat Maghrib.
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim ambulans khusus segera diberangkatkan ke lokasi kejadian. Kecepatan respons menjadi prioritas utama dalam kondisi henti jantung yang membutuhkan penanganan secepat mungkin.
Tiba dalam 2 Menit 56 Detik, Tim Langsung Lakukan CPR
Tim ambulans tiba di lokasi dalam waktu 2 menit 56 detik sejak menerima panggilan darurat. Setelah melakukan pemeriksaan awal, paramedis mendiagnosis pasien mengalami henti jantung dan pernapasan.
Petugas tanggap darurat langsung memulai tindakan resusitasi jantung paru (CPR) di tempat kejadian sesuai dengan protokol medis yang telah disetujui. Proses penyelamatan dilakukan menggunakan peralatan medis canggih yang tersedia pada unit ambulans.
Upaya CPR tersebut membuahkan hasil. Tim medis berhasil memulihkan kondisi pasien sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Untuk memastikan penanganan berjalan maksimal, tim pendukung tambahan juga dikerahkan ke lokasi.
Dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Salam
Setelah kondisi pasien dinyatakan stabil, jemaah haji asal Indonesia tersebut segera dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Salam guna melanjutkan perawatan medis yang diperlukan.
Keberhasilan penyelamatan ini menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme tim ambulans dalam menangani situasi darurat di area masjid. Respons cepat, diagnosis tepat, serta tindakan medis sesuai protokol menjadi kunci utama dalam menyelamatkan nyawa pasien.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya layanan tanggap darurat yang siaga, terutama di lokasi dengan aktivitas ibadah yang padat selama bulan Ramadan.
