Hikmah Sa’i yang Jarang Dijelaskan dan Perbuatan Makruh Saat Sa’i

Hikmah Sa'i

Sa’i adalah berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. sai ini merupakan salah satu rukun umrah dan bagian integral dari manasik haji. Di balik gerak fisik itu tersimpan hikmah spiritual, sosial, dan psikologis yang kaya, namun banyak aspek hikmah tersebut sering terlewatkan oleh jamaah yang hanya fokus pada aspek ritual teknis. Pada saat yang sama ada sejumlah perilaku yang termasuk makruh (tidak dianjurkan) ketika melakukan sa’i.

Hikmah Sejarah: Meneladani Perjuangan Hajar r.a.

Sa’i secara esensial meneladani perjuangan Hajar mencari air untuk bayi Ismail. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa sa’i bukan sekadar ritual fisik, melainkan pengingat akan keteguhan, tawakal, dan ikhtiar seorang ibu yang percaya pada pertolongan Allah. Ketika jamaah melangkah dari Shafa ke Marwah, mereka menyusuri jejak pengorbanan itu mengubah sa’i menjadi pengalaman empati dan penghayatan sejarah kenabian.

Hikmah Spiritual: Latihan Kesabaran, Keikhlasan, dan Tawakal

Sa’i melatih jamaah menahan lelah, menabung kesabaran, dan mengukuhkan niat dalam kondisi yang menuntut fisik. Menurut tradisi tasawuf yang dikutip pula oleh Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, gerak berulang sa’i mendidik jiwa agar tetap istiqamah meski langkah kita terbatas, doa dan harapan terus dipanjatkan. Proses ini mempertebal makna tawakal berusaha semaksimal mungkin sambil menyandarkan hasilnya kepada Allah.

Hikmah Sosial: Persatuan, Kesetaraan, dan Kepedulian

Secara sosiologis, sa’i mempertemukan jamaah dari berbagai bangsa dan strata di satu ruang ibadah yang sama. Ketika ribuan orang berjalan antara dua bukit itu, tidak ada perbedaan status semua bermuara pada satu tujuan spiritual. Hadratusyaikh menyinggung bagaimana manasik seperti sa’i mengajarkan persaudaraan praktis: saling memberi jalan, menolong yang lemah, dan merawat keselamatan jamaah lain.

Hikmah Kesehatan dan Psikologi

Gerakan berulang pada sa’i juga membawa manfaat tubuh dan jiwa. Jalan kaki ringan membantu sirkulasi darah, menenangkan napas, dan memberi ruang untuk kontemplasi. Banyak ulama modern menekankan bahwa keseimbangan antara raga dan ruh penting agar ibadah tidak menjadi beban, melainkan sarana penyembuhan spiritual. Dalam konteks ini, sa’i diposisikan sebagai ritual yang memelihara tubuh sekaligus memperdalam doa.

Hikmah Pendidikan: Menginternalisasi Nilai-nilai Keteladanan

Sa’i mengandung pelajaran praktis bagi pendidikan akhlak, kesabaran ketika antri, rasa empati ketika melihat orang tua atau lansia berjuang, dan latihan pengendalian diri ketika terus memanjatkan doa meski letih. Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa nilai-nilai ini harus diteruskan ke keluarga dan komunitas setelah jamaah kembali, sehingga sa’i menjadi pelajaran hidup, bukan sekadar rutinitas ritual.

Perbuatan Makruh Saat Sa’i yang Sering Terjadi

Mengenal apa yang makruh saat sa’i penting agar jamaah tidak merendahkan kualitas ibadahnya. Berikut beberapa perbuatan yang termasuk makruh dan sering terjadi:

1. Berbicara Keras dan Mengganggu Orang Lain

Berbicara keras, bercanda berlebihan, atau menelpon saat sa’i apalagi di jalur sempit mengganggu kekhusyukan jamaah lain dan mengurangi nilai khusyuk. Sikap ini makruh karena menghilangkan adab tempat suci.

2. Berjalan Terlalu Cepat Hingga Menyebabkan Desak-Desakan

Meski sebagian syariat membolehkan mempercepat langkah pada bagian tertentu untuk laki-laki (ramal), perilaku memotong jalur, mendorong, atau berlari yang menimbulkan bahaya adalah makruh dan berpotensi membatalkan adab ibadah.

3. Menggunakan Sa’i Untuk Berniaga atau Mengambil Foto yang Berlebihan

Memanfaatkan area sa’i untuk berjualan atau melakukan sesi foto komersial mengubah fungsi spiritual tempat menjadi komersial hal ini termasuk perbuatan yang sangat tidak dianjurkan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *